Month: April 2017

Momentum Kebangkitan Tashwirul Afkar Refleksi Harlah Ke-94 NU Oleh Jamal Ma’mur Asmani

TAK terasa Nahdlatul Ulama (NU) sudah berusia 94 tahun. Lahir pada 16 Rajab 1344 H sampai 16 Rajab 1438 H, NU sudah memberikan prestasi besar bagi bangsa ini di segala aspek kehidupan, khususnya pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat. Momentum harlah NU ke-94 ini harus dimanfaatkan seluruh elemen NU untuk membangkitkan spirit tashwirul afkar. Tahswirul Afkar adalah kelompok diskusi yang digagas KH Abdul Wahab Hazbullah di Surabaya yang mampu mempertemukan seluruh elemen umat Islam, baik yang tradisional maupun yang modern. Spirit utama tashwirul afkar adalah dinamisasi pemikiran dan diseminasi gagasan ke ruang publik sehingga terjadi dialektika keilmuan yang produktif. Banyak indikator kebangkitan tahswirul afkar. Pertama, berdirinya Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di berbagai wilayah di Indonesia, misalnya UNU Pekalongan, UNU Jakarta, UNU Surabaya, dan UNU Yogyakarta. Hebatnya, UNU yang berdiri di banyak wilayah ini banyak yang mempunyai program studi umum, bukan agama, misalnya teknik, kedokteran, dan komputer. Program studi nonagama ini akan memperkaya sumber daya manusia NU, sehingga tidak didominasi oleh ilmuwan agama. Lahirnya cendekiawan-cendekiawan muda yang multidisiplin ini akan mengantarkan NU ke gerbang kebangkitan di segala aspek kehidupan. Menurut Anwar Ibrahim (2008), ilmuwan yang dibutuhkan dunia adalah mutafannin, yaitu orang yang menguasai hampir seluruh bidang keilmuan sehingga bisa mengkombinasi secara sinergis dan menjadi kekuatan dahsyat dalam mengubah dunia. Figur seperti inilah yang ada dalam sejarah Islam zaman dulu, seperti Ibn Khaldun, Ibn Sina, Fakhruddin Ar-Razi, Ibn Rusyd, Al-Ghazali, Al-Kindi, dan...

Read More