IMG-20170131-WA0036Saat suara burung tedengar, saat matahari menampakkan sinarnya. Seorang Gadis desa cantik bernama Citra terbangun dari tidurnya. Citra adalah seorang gadis desa yang ceria, lugu dan baik dan juga pintar. Ia mempunyai sahabat yang bernama Cinta. Cinta adalah seorang gadis desa yang polos, baik serta terpelajar.

Suatu saat citra sedang termenung di gubuk sawah Cinta menegurnya .
“Hai Citra, sedang apa kau disana “ sapa Cinta.
“Aku sedang memikirkan sesutu, Cin “. ujar Citra.
“Apa yang kau pikirkan ?” tanya Cinta.
“Aku ingin melanjutkan pendidikannku di kota, tapi ….? “.
“Tapi apa ?” saut Cinta.
“Apakah orang tuaku mampu membiayai pendidikanku, orang tuaku saja hanya seorang petani diladang Haji Somad”. Citra menjawab.
“Citra , kamu tidak boleh menyerah, meskipun orang tua kamu hanya bekerja sebagai petani, kamu kan bisa ikut program beasiswa. Aku bisa membantumu kalau kamu mau ?” ujar Cinta. Citra sangat bahagia dengan ucapan Cinta itu.
Citra berkata “sungguh?, apakah itu bisa membantuku melanjutkan pendidikanku ?”.
“Ya ! sungguh…. kau kan pintar, kamu pasti bisa mendapatkan program bea siswa itu. Orang tuaku tidak lagi bisa membiayai pendidikanku ?” tanya Citra.
“Ya, itu benar, kamu tidak akan membebani orang tuamu lagi” jawab Cinta.
“Kalau begitu, ayo antarkan aku untuk mendaftar program bea siswa itu “ ajak Citra. Cinta menyetujui permintaan Citra itu.
Akhirnya Cinta mengantarkan Citra dengan menggunakan angkutan umum. Setelah selesai mendaftar merek langsung pulang kerumah. Setelah Citra sampai rumah, Citra mengucapkan salam dan mengatakan kepada orang tuanya, bahwa ia ingin melanjutkan pendidikannya.
“Bu, aku ingin melanjutkan pendidikanku lagi”. Ujar Citra keadaan Ibunya.
“Tapi nak, ayah dan Ibumu tak mampu membiayai sekolahmu lagi “ kata Ibunya.
“Bahkan ayah sudah tak mampu lagi membiayai sekolah adikmu lagi “ saut ayah Citra.
“Tapi ayah, Ibu aku sudah mendaftar program bea siswa, jadi Ayah dan Ibu tidak usah lagi membiayai sekolahku “ jelas Citra.
“Benarkah itu nak, kalau begitu kau boleh pergi” ujar Ibu Citra.
“Terima kasih Ibu “ Citra berterima kasih pada Ibunya.

Keesokan harinya Citra ditemani Cinta untuk Ujian Program Bea siswa. Setelah lama menunggu , akhirnya ujian selesai. Dari hasilnya penilaian itu, ternyata Citra adalah salah satu anak yang mendapatkan beasiswa. Citra segera bergegas untuk pulang ke rumahnya.
Setelah tiba dirumahnya Citra pun segera.memberitahu ayah dan Ibunya.
“Ayah , Ibu, aku berhasil mendapatkan bea siswa, kini aku bisa melanjutkan pendidikanku ke kota”. Sahut Citra dengan perasaan senangnya itu.
Keesokan harinya Citra diantar Ayah, Ibu dan Cinta pergi ke halte untuk mengantarkan Citra untuk pergi ke kota.
“Ayah, Ibu, Cinta, au mau pergi dulu ya, tolong doakan aku ya ….” Ujar Citra.
“Iya nak, Ayah dan Ibumu pasti akan mendoakanmu “. Ujar Ayah Citra.
Tak lama kemudian Citra segera berangkat menuju kota setelah berjam-jam akhirnya Citra sampai di kota. Sesampainya di kota Citra merasa bahagia sekali. Setiap pagi Citra berangkat kuliah, Citra ingin sekali menjadi dosen, tapi Citra masih bimbang karena dia tidak yakin untuk bisa menggapai cita-citanya itu, karena dia merasa bahwa dirinya itu hanya seorang gadis desa yang miskin dan lemah, tapi dihatinya dia itu menginginkan sekali untuk menjadi dosen. Hari libur kuliah pun tiba …..
Citra bergegas untuk ke stasiun kereta api untuk pulang ke kampung halamannya itu. Setelah berjam-jam melalui perjalanan sampailah gadis desa itu dihalaman rumahnya yang sudah disambut oleh Ayah , Ibu dan Cinta sahabatnya itu.
“Citra kamu sudah sampai ternyata” sambut Cinta dengan suara lantang.
“Oh iya Cinta bagaimana keadaanmu ?” Ujar Citra.
“Tentu baik sahabatku “ sambung Cinta.
“Tapi aku harus kembali ke kota setelah satu bulan di desa” Ujar Citra dengan perasaan sedihnya itu.
“Citra, kamu jangan bersedih pasti kalau ada waktu aku bisa menemui bersama orang tuamu ke kota” sambung cinta dengan tegas.
“Tapi bagaimana dengan biayanya Ayahku saja tidak memiliki biaya yang cukup untuk membiayai adikku” ujar Citra.
“Aku kan bisa menggunakan uang tabunganku untuk itu “ sambung Cinta.
“Tapi aku tidak mau menyusahkan kamu terus Cinta” ujar Citra dengan suara lantang.
“Tidak Citra, kamu tidak menyusahkanku sama sekali “ sambung Cinta.

Dengan wajahnya yang gelisah itu ia berfikir bila nanti dia menjadi dosen pasti hidup keluarganya tidak akan miskin tapi dia berfikir bahwa dia tidak pantas dan layak untuk menjadi dosen layaknya orang-orang kaya didesanya. Tapi dengan perasaan percaya diri Citra berkeinginan yang kuat agar dia bisa menggapai cita-citanya itu.

Tak lama kemudian liburan kuliah pun berakhir, Citra bergegas untuk ke halte bersama Ibu, Ayah dan sahabatnya yaitu Cinta untuk menunggu Bus yang menghantarkannya ke kota. Setelah beberapa jam akhirnya bus yang ditunggu datang dan ia segera pergi meninggalkan kampung halamannya. Sesampainya di kota, ia belajar dengan giat dan berhasil meraih cita-cianya itu. Dan sekarang ia menjadi orang sukses karena dia menerapkan sifat percaya diri dan pantang menyerah untuk mencapai cita-citanya.