IMG-20170131-WA0051U… uu… aa…
Hem.., ternyata sudah fajar. Pantas saja monyet-monyet itu sudah berkeliaran di dekat rumahku dan ada juga yang mamanjat pohon dengan jendela kamar ku. Bikin suasana rumah ini menjadi ramai dengan suranya yang sangat lantang dan sangat merdu (Richakun membuka pintu rumah untuk menuju ke monyet-monyet yang lucu itu, dan mengajak salah satu monyet untuk mencari singkong sebagai menu sarapan dipagi hari).

# #

Jam menunjukan pukul 06.00. Richa segera bergegas berangkat sekolah dengan berjalan kaki, sesampai disana pukul 07.00 dan bel pun langsung berbunyi.

“Teett…. teeettt tettttt….. “.
“Hah, sudah berbunyi deh belnya !” sambil ngos-ngosan.
“Aku harus lari agar tidak terlambat masuk kelas” kata Richa di depan pintu gerbang sekolah.

“Alhamdulillah…”
“Aku tidak terlambat masuk kelasnya”.

Buku pelajaran pun aku buka dan harus berkonsentrasi penuh mendengarkan pelajaran dari Bapak dan Ibu guru
“Aku harus semangat sekolah agar aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Aku merasa kasihan melihat nasib keluargaku yang hidup dengan apa adanya dan tanpa mengeluh sedikit pun. Aku akan berusaha dan terus berusaha agar sita-citaku dapat tercapai”. Tekat Richa yang ingin membahagiakan orang tuanya.

# #

“Uhuuk uhuuk… “ suara Ibu Richa yang batuknya tak kunjung sembuh. “I…. buuu..!!” Richa mendengar suara Ibunya yang batuk-batuk semakin parah.
“Ibu, maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu, yang selayaknya menjadi seorang ibu, tapi aku akan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiaknmu bu”.

“Aku harus mencari obat mereda batuknya Ibuku. Iyaa… aku harus mencari…. tapi apa …? apa…?”.
Tiba-tiba Richa teringat pelajaran dari Bu guru tentang penyakit dan obatnya.
“Oh iya…. guruku pernah menjelaskan obat batuk yang mudah didapatkan yaitu jeruk nipis yang ditambah kecap manis”.
“Iya aku harus mencari pohon itu” Richa pun langsung bergegas pergi mencarinya.
“Ibuuu….. Ibuuu…..”.
“Ini aku buatkan jeruk nipis yang dicampur dengan kecap manis, semoga bisa meredakan batuknya Ibu”.
“Cepat sembuh ya Bu”
“Terima ksaih ya nak , kamu satu-satunya putri Ibu yang Ibu punya” kata Ibu yang menangis sambil mengecup keningnya Richa.
“Iya buu… “ sahut Richa.
“Iya sudah”. Kalau begitu Richa mau mencari singkong dulu Buu sama si Monyet. Semoga saja mendapatkan banyak singkong untuk makan sehari-hari” Richa sangat bersemangat untuk menikmati hari-harinya, walaupun berteman dengan monyet.
“ Alhamdulillah, kita mendapatkan banyak singkong, Ibu pasti senang melihatnya”. “Uuuu.. uuu.. aa.. aa….” kata si Monyet.

Pagi sudah datang lagi, besok hari terakhir aku bertemu dengan teman-teman SMA ku. Semoga aja aku lulus ujian dan mendapatkan hasil yang baik.

# #
Pengumuman

Ditujukan kepada Saidara atau Saudari SMA Penuh Harapan, bahwasannya hasil ujian nasional yang sudah dikerjakan mendapatkan predikat pertama dari sekolah-sekolah lainnya.
Dan yang paling membanggakan lagi bahwasanya saudari Richa mendapatkan penghargaan khusus untuk kuliah samapai tuntas sampai keluar negeri tanpa membayar sepeser pun. Dan mendapatkan uang satu Milyar, karena prestasinya yang begitu baik tanpa kesalahan apapun. Sebelum mendengarkan pengumuman tersebut Richa merasa cemas, ia takut akan gagal dan mengecewakan Ibunya. Setelah mendengarkan pernyataan tersebut ia langsung sujud bersujud syukur dan mengucapkan terima kasih atas apa yang dilimpahkan kepadanya.

# #

Ibuuuu.. Ibuuu………. Ibuuuuuuuu..!”
“Kenapa kamu teriak-teriak nak, ada apa? Tanya Ibu.
“Ibu..” tanya Richa.
“ Iya ada apa nak, coba ceritakan sama Ibu, apa kamu diejek lagi sama teman sekolahmu, apa karena kita orang tak punya yang hidup ditengah hutan dan dikelilingi monyet-monyet?” Ibu berkata.
“Tidak Bu..” jawab Richa.
“Terus apa nak, kenapa kamu menangis seperti ini ?” Ibu merasa bingung atas perilaku Richa.
“Bu… a.. kuuu. Akuuuuuuu mendapatkan beasiswa bu, dan mendapatkan uang satu milyar untuk kuliah keluar negeri, aku lulus ujian bu” Richa bercerita.
“Alhamdulillah nak, Ibu bangga padamu”. Jawab Ibu. “Dan satu lagi Bu, aku mempunyai untuk membawa Ibukeluar negeri juga, kita akan membeli rumah disana Bu, agar Ibu merasa nyaman dan tidak lagi digubuk tengah hutan ini bu, yang selalu kehujanan dan kepanasan”. Richa sambil berkata tergesa-gesa
“Ibu mau kan ??” tanya Richa.
“Ibu mau ya, ini cita-citaku dari dulu bu yang ingin sekali membuat Ibu dan Bapak merasa nyaman, dekat dengan penduduk bisa berkumpul kesana kemari bu. Tapi sayangnya Richa telat mewujudkannya bu karena Bapak sudah lama meninggalkan kita” Richa menjelaska.
“Kenapa Ibu tiba-tiba diam, apa kata-kataku ada yang salah bu, apa Ibu tidak mau untuk meninggalkan gubuk ini?” Richa bertanya-tanya dalam hatinya.
“Kenapa Ibu belum menjawab juga, apa yang sedang ibu fikirkan? “
“ Oh…. mungkin Ibu butuh sendiri dulu, lebih baik aku kemar aja dan menunggu jawaban dari Ibu”. Dalam hari Richa.

# #

Tiba-tiba Ibu menghampiriku dan mengatakan “ Iyaa” jawab Ibu.
“ Terima kasih buu… Ibu mengerti apa yang aku mau”. Sambil memeluk Ibunya.