Month: August 2016

Bangun Bangsa ini dengan Prestasi Besar

Bangun Bangsa Ini Dengan Prestasi Besar Siswa-siswi Madrasah Aliyah NU Luthful Ulum yang berlokasi di dukuh Wonokerto Pasucen Trangkil Pati bersama Madrasah Tsanawiyah dan Ibtidaiyah melakukan upacara 17 Agustus 2016 di halaman Madrasah Luthful Ulum untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke 71. Sekitar 500 siswa-siswi mengikuti upacara dengan khidmah. Agung Prayogo selaku pemimpin upacara memimpin jalannya upacara dengan tegas, tertib, dan disiplin. Pasukan pengibar bendera mengibarkan Sang Merah Putih dengan lancar. Teks Proklamasi dan Pancasila dibaca dengan khidmat. Lagu kebangsaan dan Padamu Negeri didendangkan siswa-siswi kelas X MA NU Luthful Ulum dengan semangat membara untuk mengenang para pahlawan dan menyemaikan semangat membangun bangsa. Bapak dan Ibu guru mengikuti upacara dengan khidmah bersama para siswa-siswi. Dr. Jamal Ma’mur, MA selaku Pembina upacara mengingatkan kepada seluruh peserta agar mengingat kembali pengorbanan besar para pahlawan, seperti Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Jenderal Soedirman, KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hazbullah, KH. Bisyri Syamsuri, KH. Abdul Wahid Hasyim, dan tokoh-tokoh perjuangan lainnya yang mencurahkan segala daya dan upaya untuk mengusir penjajah demi meraih kemerdekaan bangsa. Mereka tidak takut menghadapi musuh, meskipun alat persenjataan ala kadarnya, jauh dari memadai, tapi tekat kuat dan semangat pantang mundur menjadi kunci meraih kesuksesan. Kemerdekaan bangsa Indonesia bisa diraih berkat persatuan nasional, ilmu, dan perjuangan tanpa kenal lelah yang disertai pertolongan Allah SWT. Para pahlawan menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka...

Read More

Belajar Nasionalisme Dengan Para Ulama NU

Belajar Nasionalisme Dengan Para Ulama NU Nahdlatul Ulama adalah organisasi sosial keagamaan yang didirikan oleh para ulama. Berdirinya NU tidak bisa lepas dari peran ulama sebagai pendiri, penggerak, dan pengembang organisasi. Kader-kader muda NU harus belajar kepada para ulama NU supaya mampu mengembangkan NU di masa depan. Demikian paparan KH. Abdul Majid, Wakil Rais Syuriyah MWC NU Trangkil dan Ustadz Muhammad Hambali, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dalam acara Orientasi Aswaja di hadapan siswa-siswi MA NU Luthful Ulum, Dukuh Wonokerto Pasucen Trangkil Pati. KH. Abdul Majid menjelaskan, salah satu sifat utama ulama NU adalah keikhlasan. Mereka berjuang untuk meraih kemerdekaan dan mencerdaskan bangsa hanya untuk menggapai ridla Allah SWT, tidak karena motivasi harta, jabatan dan kekuasaan. Mereka lebih memilih kembali ke pesantren untuk mendidik dan mengajar kader-kader bangsa. Para ulama berperan sebagai pemasok utama kader-kader bangsa yang berkarakter. Ustadz Hambali menambahkan, sifat-sifat para ulama yang lain adalah nasionalisme, yakni mencintai bangsanya secara sungguh-sungguh sebagai manifestasi dari kedalaman spiritualitasnya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mengusir penjajah dari bumi tercinta. KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hazbullah, KH. Bisyri Syamsuri, KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Ali, KH. Abdullah Salam, KH. Abdurrahman Wahid, KH. MA. Sahal Mahfudh, dan KH. Suyuthi Abdul Qadir adalah ulama-ulama NU yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa. Ustadz Jamal menambahkan, secara kelembagaan, nasionalisme NU terbukti dengan banyak hal. Pertama, NU memberi nama Indonesia sebagai Darus...

Read More

Guru Kunci Pendidikan OASE – Oleh Jamal Ma’mur Asmani

PENDIDIKAN di Indonesia masih kalah dari Malaysia yang dulu belajar dari kita. Apalagi dengan Jepang, Australia, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Pendidikan terbaik masih dipegang oleh negara-negara Eropa dan Amerika, baru setelah itu negara-negara Asia. Salah satu faktor utamanya adalah sumber daya guru yang masih rendah. Kreativitas dan produktivitas guru di Indonesia masih di bawah standar sehingga tidak mampu menginspirasi siswa untuk berkarya. Ada pepatah Arab yang artinya metode lebih penting dari materi, tapi guru lebih penting dari metode. Sebaik apa pun metode, jika kualitas guru rendah maka metode itu tidak banyak berpengaruh pada proses pendidikan. Ada beberapa langkah yang dilakukan. Pertama, secara formal, guru diwajibkan menempuh studi S-2 sesuai dengan spesifikasi keilmuannya. Sudah tidak masanya guru era sekarang mencukupkan diri dengan S-1 karena tantangan zaman yang semakin kompleks. Ilmiah Dengan bekal S-2, guru punya kemampuan metodologi berpikir ilmiah sehingga mampu menganalisis problem-problem pendidikan secara sistematis, filosofis, dan solutif. Kedua, secara substansial, guru didorong untuk aktif dalam kegiatan penelitian. Ketiga, mendorong guru untuk menulis. Hasil penelitian guru harus dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan, seperti laporan penelitian, jurnal, artikel, kolom, dan lain-lain supaya bisa dibaca dan direspons publik secara luas Desiminasi pemikiran dalam bentuk tulisan akan menggairahkan iklim akademik dan mempercepat proses transformasi paradigma dan sosial sekaligus. Ada pepatah Arab yang artinya apa yang ditulis abadi dan apa yang dihafal hilang. Inilah yang mendasari Umar bin Khattab merekomendasi pembukuan Alquran...

Read More