Month: July 2016

Gola Gong, Keluarga Pengarang

KELUARGA PENGARANG Gola Gong PEMBACA novel Balada si Roy pasti tidak asing lagi dengan nama Gola Gong. Laki-laki bernama asli Heri Hendrayana Harris (40) tersebut memang pengarang novel yang dicetak lebih dari 100.000 kopi itu. Namun, bagi masyarakat Banten, Gola Gong bukan sekadar penulis yang telah menghasilkan sekitar 35 karya novel.DUA tahun belakangan, melalui komunitas yang diberi nama Rumah Dunia, ia membangun pusat belajar yang dirancang untuk mencetak generasi baru. “Selama ini Banten lekat dengan stigma jawara, teluh, santet, pelet, dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif. Kami ingin mengubah Banten, tetapi rasanya sangatlah tidak mungkin. Melalui rumah ini, kami ingin berbagi cinta dan ilmu kepada masyarakat,” tutur Gola Gong. Pusat belajar itu berlokasi di sekitar rumahnya di Kompleks Hegar Alam 40, Ciloang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, tidak jauh dari pintu tol Serang Timur.Berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi, Rumah Dunia mempunyai empat bangunan sederhana untuk perpustakaan anak-anak dan remaja, teater terbuka, dan tempat diskusi. Mulai pertengahan bulan Maret 2004, dibuka toko buku bernama Kedai Buku Jawara.Di tempat itulah anak-anak berusia lima hingga belasan tahun terlihat membaca, mendongeng, menulis, menggambar hingga latihan teater. Semua kegiatan dikemas dalam bentuk wisata.Meskipun menyadari buah dari kerja kerasnya mungkin baru akan menunjukkan hasil 20 tahun lagi, dia sangat yakin kunci pembentukan generasi baru adalah membaca. “Kalau budaya membaca ini bisa diterapkan di seluruh rumah, bangsa ini akan cepat mencapai kemajuan. Pemimpin Banten...

Read More

Mimpi Itu Terwujud, Putra Pencari Rongsokan Diterima di Fakultas Kedokteran UGM Sabtu, 16 Juli 2016 | 15:31 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com – Mimpi Permana Suskalanggeng dan istrinya, Dwi Asih Prihati, menjadi kenyataan. Putra sulung mereka kini diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bagi pasangan suami-istri itu, pendidikan adalah segala-galanya demi hidup dan masa depan anak yang lebih baik. Permana sehari-hari bekerja sebagai pencari barang rongsok. Ia pergi ke desa-desa dengan mengendarai motor tua. Di perjalanan, seringkali motor uzurnya mogok hingga ia harus berhenti untuk memperbaiki. Setiap hari, Sus, panggilan Permana, mencari barang bekas di sepanjang jalan yang ia lewati. Ia berhenti di rumah-rumah warga untuk menanyakan barang bekas yang sudah tidak lagi terpakai. Jika diizinkan oleh pemilik rumah, maka rongsokan tersebut ia masukkan ke dalam lerombong di belakang jok motornya. Barang bekas pakai itu biasanya diberikan kepadanya secara cuma-cuma. “Saya tidak punya modal untuk membeli rosok. Jadi biasanya saya ganti dengan membersihkan pekarangan rumahnya,” ucap Sus melalui keterangan pers dari Humas Universitas Gadjah Mada, Sabtu (15/7/2016). Dari hasil menjual rongsokan yang ia kumpulkan, dalam sebulan Sus mendapatkan uang sebesar Rp 900.000. Uang ini ia gunakan untuk menghidupi keluarganya dan biaya sekolah. Uang itu juga yang ia pergunakan untuk biaya pengobatan anak keduanya karena sakit saraf perut dan harus menjalani pengobatan jangka panjang. Sampai kini Sus belum memiliki rumah sendiri. Ia bersama keluarganya menempati sebuah rumah milik saudaranya di Dusun Saragan, Pendowoharjo, Sleman, yang ditinggal merantau ke Kalimantan....

Read More