Month: May 2016

Mentari di Balik Hijab Oleh: Puji Lestari, Kelas X MA NU Luthful Ulum (Juara Harapan 3 LOmba Cerpen)

Pagi yang cerah ini, matahari nampak tak ragu-ragu menampakkan dirinya dari ufuk timur.Pancaran siluet sinarnya menyinari bumi dengan terangnya. Dan pagi cerah ini merupakan event berharga bagi para calon siswa-siswi SMK Bina Bangsa.Meski upacara MOS yang akanmereka ikuti itu masih lama, banyak dari mereka yang memilih datang lebih awal. Semua calon siswa-siswi sibuk dengan kegiatan masing-masing.Ada yang sibuk berkenalan, sibuk ngegodain cewek, bahkan ada yang Cuma duduk nyantai sambil membaca novel. Lain halnya dengan gadis yang satu ini, ia lebih memilih menghabiskan waktu bermain piano di ruangan musik sekolah. Yap gadis itu bernama Adilla Lestari, gadis ini berperawakan tinggi, putih, memiliki lesung pipit yang membuat ia terlihat manis. Ia merupakan gadis yang selalu tertutup dengan hijabnya. Selain pandai bermain piano ia juga pnadai dalam segala hal. Tak heran jika ia sudah menginjak masa SMA di umurnya yang masih berusia 14 tahun. Adilla berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat belajarnya sehingga ia bisa masuk di SMA ini dengan Beasiswa. Prokk… prook. Prok.. Terdengar tepuk tangan dari arah pintu ketika Adilla selesai memainkan piano sehingga Adilla menoleh kebelakang dan mendapati seorang lelaki dengan gaya sok cool. “Wow keren, kapan-kapan ajarin dong..” Ucap lelaki otu sambil duduk di depan Adilla. “ Emm, iya makasih “ Jawab Adilla singkat karena ia canggung, hanya berduadengan lelaki yang tidak dikenalnya. “Oh..iya, kenalin gue Adrian anak IPS 2 XII.” Kata...

Read More

Menyesal Oleh: Rita Lestari, Kelas X MA NU Luthful Ulum (Juara Harapan 2 Lomba Cerpen)

Terlihat ina menatap, kuputarkan bola mataku ke arah kamar UGD No. 11. Terasa hening sekujur tubuhku tersa mati, terpaku tercengang, telingaku terngiang suara ringikan seorang gadis kecil bertubuh mungil, cantik namun bertangan satu dengan ketidak sempurnaan.Isakan tangis membasahi pipi nya yang merona itu, tangisannya menggetarkan jiwa menusuk gendang telingaku secara spontan alunan langkahku menghampiri dirinya, membuat jemari tanganku di buat gatal sehingga ternagkat melayang jauh, jatuh membelai rambutnya yang trebungkus kerudaung berwarna biru.Kelopak mataku begitu terhanyut dengan tatapan anak itu kepadaku, tatapan itu membuat bendungan kelopak mataku menggenangi pipiku. Sehingga tak lama bibirku ini mulai bergetar mengeluarkan kalimat tanya padanya, sembari mengusap tetesan air mata di pipiku. “Asslamu a’laikum , kenapa?? Kok nangis dek ?” “Wa a’laikum salam, tidak ada apa-apa kak…” “Tidak mungkin jika tidak ada apa-apa kamu menangis, tak apalah cerita saja kepadaku, mungkin aku bisa bantu…” “Emm… begini lho kak, sebab saya nangis, ibuku yang saya sayangi meninggalkan saya sendirian tanpa sebab dan alasan..” “Apakah kamu ada masalah …?“ “Tidak ada, namun beliau sepertinya malu mempunyai putri yang beranggota tubuh tak sempurna dan pembawa sial ini”. “Astaqfirullahaladzim…. adek tidak boleh berbicara sepert itu, tidak ada seorang ibu yang membenci anaknya sendiri”. “Iya kak, itu menurut anda, namun kenyataanya , fakta yang membuktikan kak. Mungkin Ibuku ada benarnya juga, aku ini anak pembawa sial, hanya bisa menyusahkan orang lain saj”. Tangisannya dan wajah sedihnya membuat kakiku terayun...

Read More

Red Roses: Niken Fitriana, Kelas X MA NU Luthful Ulum (Juara Harapan 1 Lomba Cerpen)

Semilir angin dengan sengaja menabrak wajah seeseorang lelaki berumur tujuh belas tahunan yang sedang berdiri mematung di tengah taman. Pandangan lelaki itu tertuju pada seorang gadis seumuran dengannya yang duduk di bangku taman sambil memandangi kerikil kerikil bulat di samping kakinya, seakan mengajak kerikil-kerikil itu bercakap-cakap dalam kebisuan. Bimbang….. Mark , lelaki berdarah Amerika – Indonesia itu sebenarnya ingin pergi , tapi ada sebagian dari hatinya yang men=minta yang memintanya untuk mendekati gadis itu, gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak sebulan yang lalu. Gadis itu bernama Irene, Gadis berkerudung merah itu memiliki sebuah trauma karena kematian ayahnya di depan taman ini, dan sejak saat itu setiap sore ia datang ke taman dengan membawasetangkai mawar yang entah dari mana di dapatnya,lalu duduk di bangku yang sama selama sembilan tahun terakhir dan melamun hingga langit gelap .setidaknya,itulah cerita yang didengar mark saat ia mencoba mengorek informasi dari orang orang yang sering datang ke taman ini. setelah memantapkan hatinya akhirnya mark mendekati Irene.mark mendekati Irene dengan menenteng sebuah kantong plastik berisi sebuah buku dan sebuah kotak biskuit coklatyang baru saja dibelinya dari minimarket tak jauh dari taman .sedangkan di tangan kirinya sekarang,mark menggenggam setangkai mawar merah yang tadi dibelinya dari penjual bunga keliling di depan taman.hay.’’sapa mark lalu duduk di samping Irene .Irene yang sedari tadi melamun,tersentak. Ia lalu menoleh menatap mark .’kau sedang berbicara dengan ku?”tanyaIrene ragu”apa aku terlihat seperti orang...

Read More
  • 1
  • 2