IMG_20150831_102304Dengan seni hidup menjadi indah. Dengan cerpen, kisah perjalanan seseorang bisa menjadi ‘ibrah (pelajaran berharga). Cerpen atau cerita pendek menjadi goresan pena yang sangat memukau, memantik emosi pembaca, dan memberikan sinyal-sinyal kehidupan yang lebih dinamis, kreatif, dan reflektif. Diksi yang dipilih seorang cerpenis berbeda dengan penulis ilmiah yang biasa di kolom opini. Diksi cerpenis lebih menggigit, memberikan sentuhan rasa, dan menyuarakan gagasan-gagasan orisinal yang universal dan penuh makna.

Nabi Muhammad Saw. memberikan contoh yang baik bagaimana memberikan pelajaran berharga secara efektif kepada para sahabat dengan metode cerpen yang dialogis, seperti dalam dialog Nabi dengan Malaikat Jibril tentang  rukun iman, Islam, ihsan, dan tanda-tanda kiamat. Sahabat menyimak demonstrasi teaching ini dengan seksama dan diakhiri dengan happy ending, yaitu sosok misterius yang bertanya dan membenarkan jawaban Nabi yang membuat para sahabat kaget dan berdetuk kencang karena ulahnya yang dipandang kurang ajar, tapi justru menampilkan seni mengajar yang inspiratif dan penuh lika-liku, sebagaimana karakter utama cerpen yang mendebarkan, penuh lika liku, dan mengandung pertanyaan sampai cerita berakhir.

Dalam khazanah pesantren, banyak sekali kisah-kisah yang jika diasah akan membuat para santri akrab dengan dunia cerpen, seperti yang terdapat dalam kitab Ushfuriyyah yang mengisahkan perjalanan Umar bin Khattab di tengah-tengah kota Madinah untuk mengecek kondisi rakyatnya, ternyata Ia mendapatkan seokor burung merpati (‘ushfur) yang dirantai dan dibuat mainan anak kecil, kemudian Umar membebaskan burung itu karena sayangnya yang lintas batas. Dalam dialog imajiner di alam barzakh, Umar mengatakan bahwa Allah mengampuninya, bukan karena keadilannya, tapi karena sayangnya kepada burung merpati dengan membebaskannya dari tawanan anak kecil.

Cerita dilanjutkan dengan kisah Nabi Musa yang disuruh Allah untuk mencari makam orang yang justru dikenal masyarakat sebagai orang jelek yang banyak dosanya, khususnya kepada sesama manusia. Tapi ia mempunyai tiga resep yang membuatnya dicintai Allah, antara lain: ia lebih suka bercengkrama dengan orang-orang shalih, tapi nafsu, setan, dan teman yang jelek mengganggu dan mencengkeramnya, sehingga ia tidak berdaya.

Kisah-kisah ini jika didalami dan direproduksi akan membuat para santri akrab dengan dunia cerpen. Mencoba, mencoba, mencoba, dan tidak takut salah adalah kunci sukses dalam hal apapun, termasuk menulis cerpen. Orang-orang besar, seperti Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, Rendra, A. Mustafa Bisri, Habiburrahman el-Syirazi, dan Taufiqurrahman al-Azizi, adalah orang-orang yang melalui proses menulisnya tanpa henti dan akhirnya menggapai kesuksesan setelah ratusan bahkan ribuan tantangan dilewatinya.

Cerpen yang ditulis oleh Sri Ngatini dalam Sayap-Sayap Rindu, Si Sosok Misterius dan Nur Asiyah dalam Setitik Embun Di Ujung Subuh menjadi bukti tajamnya goresan pena yang dipahat dan diukir dari kata per kata yang menyemburkan ratusan bahkan ribuan makna yang inspiratif. Kemampuan keduanya menyajikan drama kehidupan yang mendebarkan dan membuat pembaca penasaran sampai akhir cerita sangat dahsyat. Sri Ngatini lihai mengatur drama seseorang yang mencari ibunya tanpa putus asa sampai akhirnya ia mampu menemukan ibunya, mempertemukan dengan ayahnya, dan akhirnya menutuup cerita dengan episode yang happy ending. Nur Asiyah menceritakan sebuah keluarga yang diuji banyak cobaan, namun banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Dari banyak cobaan tersebut, Alya berhasil menorehkan prestasi besar di tanah Paris Perancis.

Saya menyambut gembira terbitnya cerpen ini sebagai tanda munculnya tunas-tunas muda potensial. Mereka diharapkan mengasah terus bakat dan kemampuannya dalam menapaki gerbang kesuksesan sebagai seorang cerpenis profesional, melanjutkan estafet yang diukir KH. A. Mustafa Bisri, Habiburrahman el-Syirazi, Emha Ainun Nadjib, Rendra, Taufik Ismail, Taifuqurrahman Al-Azizy, dan Andreas Harefa. Terbitnya buku ini tidak lepas dari perjuangan banyak pihak, khususnya KH. Abdul Madjid, K. Ismail, H. Aminuddin, H. Nur Faqih, H. Mustain, K. Zubaidi, S.Pd.I, K. Sabar, S.Pd.I, Bapak Erfan Chumaidi, S.Pd.I, Bapak Kunarso, S.Pd.I, Bapak Moh. Muhadi, S.Pd., Ibu Nur ‘Alimah, Ibu Siti Mardliyah, S.Pd.I, Bapak Paminto, S.Pd.I, Bapak Moh. Hambali, Bapak Ahmad Mutohar, dan lain-lain.

MA NU Luthful Ulum Dukuh Wonokerto Pasucen Trangkil Pati mengapresiasi potensi-potensi besar yang menjadi bibit unggul masa depan bangsa. Terbitnya cerpen ini menjadi salah satu bukti apresiasi MA NU Luthful Ulum supaya potensi mereka berkembang secara optimal. MA NU Luthful Ulum mengedepankan proses pembelajaran berbasis bakat dan minat supaya tercipta pembelajaran yang menyenangkan bagi anak didik. Buku ini adalah buku kedua yang diterbitkan MA NU Luthful Ulum setelah buku pertama yang berjudul “Kibarkan Prestasimu”. Diharapkan dengan terbitnya buku ini, semangat anak-anak dalam berkarya meningkat tajam dan potensi mereka berkembang pesat.

Untuk mendukung proses ini, MA NU Luthful Ulum aktif melakukan diklat jurnalistik, bedah buku, mengikutsertakan anak didik di berbagai kompetisi dari tingkat lokal, regional, dan nasional, dan akan ditingkatkan di level internasional. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas anak didik secara massif dan akseleratif dan mengantarkan mereka menuju gerbang kesuksesan di masa depan.

Semoga dengan perjuangan ini, bangsa Indonesia ke depan mendapatkan tunas-tunas muda yang berkualitas tinggi, kompetitif, dan produktif dalam melahirkan karya-karya besar yang mampu mengharumkan bangsa di pentas global.